Senin, 06 Februari 2012

Pertemuan Dua Hati

Resensi
Pertemuan Dua Hati adalah sebuah novel karya Nh. Dini. Novel ini da novel ini, terdapat banyak sekali tokoh-tokohnya. Tapi, hanya ada dua tokoh utama dan beberapa tokoh pembantu. Salah satu tokoh utama dalam novel ini adalah Bu Suci. Bu Suci adalah seorang guru yang baru saja pindah dari Purwodadi ke Semarang. Bu Suci atau Bu Suci adalah orang yang baik, ramah, ulet, dan sesuai dengan namanya, suci. Dalam cerita ini, Bu Suci adalah tokoh protagonis. Waskito adalah salah satu tokoh utama yang pada awalnya berwatak antagonis dan menjadi protagonis menjelang akhir cerita berkat Bu Suci. Waskito adalah orang yang kasar, kurang ajar, dan salah satu murid yang “sukar” di sekolahnya.
Pertemuan Dua Hati ini menceritakan seorang guru SD bernama Bu Suci. Hampir 10 tahun mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama suami, 3 orang anaknya dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di kotanya. Dalam cerita, Bu Suci dan keluarganya pindah ke Semerang karena suaminya dipindah-tugaskan. Di Semarang, Bu Suci tetap menjadi guru SD tempat anaknya bersekolah. Pada hari pertama ia mengajar, Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidakhadiran Waskito. Dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito, sebab Waskito adalah anak yang kasar, kurang ajar, dan sulit diatur. Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar.
Setelah itu, Bu Suci mengirim surat kepada Nenek Waskito. Sore hari yang telah ditentukan, Bu Suci mengunjungi rumah Nenek Waskito. Dari nenek Waskito, dia memperoleh banyak informasi tentang Waskito. Waskito pernah dipukul oleh ayahnya karena dia membolos. Selama berada di rumah orangtuanya, dia tidak pernah ditegur dan diberi tahu mana yang baik dan buruk. Tetapi selama tinggal 1,5 tahun dirumah Neneknya, Waskito bersikap manis, sopan, sering mengerjakan tugas rumah, masuk sekolah secara teratur. Hasilnya Waskito menjadi murid yang normal. Rapotnya menunjukan kemajuan. Namun, orang tuanya mengambilnya kembali. Setelah mendengar semua informasi mengenai Waskito dari neneknya, Bu Suci jadi mengerti perasaan Waskito.
 Pada suatu hari, Waskito membunuh seekor kelinci yang dibawa temannya. Teman-temannya melaporkan pada guru dan Bu Suci langsung mengajak Waskito bicara. Waskito menolak untuk mengobrol dan menghindar dari Bu Suci. Hari demi hari, Bu Suci mencoba untuk mendekati Waskito, mengajaknya untuk berkonsultasi. Lama kelamaan, hati Waskito luluh dan bersedia untuk berbicara. Seperti kata neneknya, kemarahan dan kesukarannya didorong oleh hati yang kekurangan perhatian dari keluarganya. Selama tiga bulan keadaan tenang dan Waskito tidak membuat onar.
 Hingga pada suatu hari, Waskito mengamuk saat jam istirahat. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari sekolah. Tapi Bu Suci mempertahankan muridnya tersebut. Dia meminta waktu satu bulan kepada sekolah untuk mengubah sifat Waskito yang tidak baik. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya. Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada dikelas. Bu Suci pun sering mengobrol dengan Waskito. Bu Suci merasa lebih dekat dengan muridnya tersebut. Pada raport berikutnya berisi angka-angka normal. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukannya tempo hari. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke sekolah berterima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yangt lebih dari biasa.
Sinopsis
Di sebuah kota hidup seorang gadis yang bernama Suci. Ia ingin sekali menjadi seorang sekertaris. Tetapi orang tuanya menginginkan dia untuk menjadi seorang guru. Akhirnya ia pun menuruti kehendak orang tuanya. Hingga suatu hari ia pun menikah dengan seorang pria yang berfrofesi sebagai montir. Ia pun di karuniai 3 orang anak. Karena pekerjaan suaminya itu, ia pun harus pindah ke kota lain mengikuti suaminya.Suci pun melamar sebagai guru baru di sebuah sekolah, dan anaknya pun bersekolah di sekolah itu. Sehari setelah ia mulai bekerja di sekolah itu, ia berusaha untuk mendapat mengenal dan memahami anak didiknya satu persatu. Ia memiliki seorang murid yang sedikit aneh dan bandal. Anak itu bernama Wasito. Setiap harinya Wasito hanya membuat onar di kelas, dan mengganggu teman-temannya. Suatu hari ibu Suci ingin berkunjung kerumah nenek Wasito, karena Wasito tingal disana.Ia ingin mengetahui sebab-sebab mengapa Wasito bertingka seperti itu. Sesampainya di rumah neneknya, ibu Suci pun mulai berbincang-bincang dengan nenek Wasito. Nenek Wasito pun menceritakan semua hal tentang Wasito. Ternyata Wasito itu hanyalah seorang anak yang kurang perhatian dan kasih saying dari kedua orang tuanya. Sebenarnya ia adalah seorang anak yang pintar dan baik. Setelah mengetahui itu semua, ibu Suci pun membantu membimbing Wasito untuk menjadi lebih baik. Hingga suatu hari ibu Suci pun berhasil. Wasito menjadi anak yang pintar di kelas. Dan menjadi juara kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar